Pages

Senin, 19 April 2010

Mukjizat Pohon Kaladewa


TUJUH BELAS TAHUN yang lalu. Suatu ketika saya sedang membesuk saudara (sebut saja namanya pak R usia 70 tahun) di RS pantirapih Jogjakarta, yang menderita sakit diabetes kronis. Tetapi semangat hidupnya patut dijadikan teladan. Walau sekujur tubuhnya dipenuhi luka, bahkan beberapa bagian mulai membusuk, ia tak mudah menyerah. Segala upaya pengobatan tetap dilakukan karena ia tidak NGLOKRO atau patah semangat. Semangat untuk hidup masih cukup kuat. Dan ia begitu optimis, kalau kita tulus minta sembuh pasti sembuh ! Tentu saja rasa optimismenya berdasarkan keyakinannya bahwa mukjizat tuhan hanya bagi orang yang percaya 100% saja. Betul sekali, sebab saya pribadi pun berkali-kali mendapatkan dan merasakan anugrah tuhan setelah percaya 100% akan datangnya mukjizat. Maka saya pun hanya menyarankan untuk BERDOA SECARA NETRAL, tidak mendikte tuhan. Bahkan saya tuntun kalimat apa yang layak diucap saat maneges kepada Gusti Hyang Widhi. Doanya cukup mohon kawelasan atau belas kasih tuhan. Belas kasih tuhan yang bagaimana, kita tidak perlu memilih dan berharap-harap. Kalaupun perlu memilih, kalimatnya harus bijaksana dan arif,” Duh Gusti…kalau hidup saya masih bermanfaat untuk orang banyak, untuk seluruh makhluk, untuk alam semesta maka panjangkanlah usia saya, kalau tidak, kapanpun saya rela. Artinya dalam menentukan bentuk belas kasih kita pasrahkan sepenuhnya dengan keadilan tuhan untuk yang terbaik. Keadilan tuhan telah terlimpahkan dalam hukum sebab akibat, atau hukum alam. Semua itu sangat erat kaitannya dengan “lakune urip” yang kita tempuh selama ini. Kalau kita selalu welas asih kepada seluruh makhluk, selalu membantu, menolong, memberi kemudahan kepada sesama tanpa pilih kasih kepada siapa saja yang sedang menderita atau menghadapi kesulitan, pastilah pada gilirannya saat kita sedang menderita dan mendapat kesulitan akan ada saja orang yang menolong, membantu, memberi kemudahan. Semua itu datang pada saat yang tepat dan indah pada waktunya. Saat kita sedang kehabisan akal dan mendapati jalan buntu kita lihat kiri dan kanan terdapat celah sebagai jalan keluar. Biarpun “celah” itu seolah tampak sempit, tetapi jika kita berusaha melaluinya dengan sabar, tulus dan tabah, pastilah akan ketemu “jalan” lebar dan “ruang” yang teramat luas sangat melegakan. Itulah mukjizat anugrah tuhan. Mukjizat tidak akan dapat kita raih selama kita hanya berpangku tangan, atau hanya menunggu bola mukjizat menghampiri kita. Mukjizat bisa jadi batal kita dapatkan jika sama sekali tidak berani melakukan “spekulasi” saat berikhtiar. Mukjizat harus kita jemput, kita usahakan secara maksimal dengan penuh percaya diri dan pikiran yang positif. Sebagaimana yang dialami Pak R, beliau tak pernah putus asa dengan penyakit berat dan ragam komplikasi yang dideritanya. Dalam kondisi seperti itu, beliau masih sering mendoakan teman-teman dan tetangganya yang sedang sakit pula.lanjutkan baca :

MUKJIZAT AKHIRNYA BERHASIL DIRAIH

Suatu peristiwa menakjubkan terjadi. Saya anggap sebagai mukjizat. Saat itu saya sedang membantu nebus resep obat dan harus menunggu antrian panjang. Tiba-tiba datang seseorang dari arah belakang saya berdiri. Seorang bapak-bapak sepuh, dengan pakaian perlente, bersih dan wangi. Tiba-tiba menyodorkan satu batang tanaman entah apa namanya. Orang tersebut memberikan dengan tangan kanannya, sambil berucap dalam bahasa Jawa campuran bahasa Jawa Kuno,”ini aku berikan obat untuk sedulurmu yang sakit berat, rebuslah dengan air sebanyak 11 gelas, setiap rebusan terdiri 7 tanaman utuh (berikut akar, batang, dan daunnya), tambahkan sedikit adas dan pulasari. Airnya untuk diminum sebanyaknya setiap hari selama 35 hari dan seterunya minum sehari 2 gelas”. Jelas dan lengkap kalimat itu diucapkan. Dan buru-buru saya catat. Saat saya ambil pulpen dan kertas di dalam tas, tiba-tiba orang itu sudah lenyap tak tampak batang hidungnya. Bahkan saya sempat tanya ke orang-orang di sekitar saya tak satupun yang melihat orang dimaksud. Bahkan kata orang-orang yang berada di sekeliling saya, kata mereka saya tidak berbicara dengan siapapun, dan tak ada seseorang dengan ciri-ciri sebagaimana bapak-bapak misterius tersebut. Tetapi bukankah “tanaman misterius” yang diberikan seorang Bapak-bapak tadi, tanaman tersebut benar-benar nyata dan bisa dilihat dipegang semua orang yang berada di situ. Akhirnya saya pilih diam dan saya yakin beliau adalah leluhur yang mau membantu Pak R. Entah leluhur dari mana dan siapa waktu itu saya tak jelas memahaminya.

Setelah peristiwa itu, saya coba tanyakan nama pohon aneh itu kepada orang-orang, namun tak satupun tau pohon apa namanya. Saya sampai bertanya kepada teman yang kuliah di fak Biologi dan Kedokteran juga tidak mengenal tanaman itu. Mereka hanya tahu dari klasifikasi atau ordo apa. Katanya tanaman itu sejenis GULMA, rumput liar, alias tanaman penganggu. Saya kebingungan kemana harus daya dapatkan pohon itu. Coba mencari-cari di desa, di pinggir sawah, di kebun, bahkan sampai di kuburan. Akhirnya ketemu juga tanaman sejenis itu, saya temukan di pinggiran jalan di desa, dan di pematang sawah, bahkan banyak pula terdapat di kuburan. Kebingungan menyebut nama tanaman itu, akhirnya mertua saya memberi nama KOLODEWO atau kaladewa. Sejak itu saya praktekkan untuk mengobati Pak R, ternyata sungguh tijab, setelah 35 hari Pak R sembuh. Dilanjutkan secara rutin minum rebusan kolodewo sehari cukup 1 sampai 2 gelas. Pak R sembuh total berikut komplikasinya, bahkan Pak R setelah 15 tahun kemudian barulah meninggal dunia dalam kondisi sehat dan segar bugar, dan usianya pun sudah mencapai 85 tahun.

Pada tahun 2006 s/d 2008 kebetulan saya ada pekerjaan di Sumatra Barat, dan bertemu orang-orang penderita diabetes hingga menderita kompliaksi. Setelah saya bawakan secara cuma-cuma tanaman kolodewo untuk mengobati penyakitnya. Mayoritas mereka segera sembuh. Namun sayang sekali saya sudah mencari pohon kaladewa di penjuru hingga pelosok Sumatra Barat, dari Pariaman, Bukit Tinggi, Solok, Pesisir Selatan, hingga pelosok Kec Kambang, tidak satu pun saya temukan. Sehingga saya harus bawa dari Jawa. Karena di Jawa relatif mudah didapat, saya tinggal kasih uang ke anak-anak SD untuk mencari tanaman liar tersebut. Baru kemudian di cuci bersih, lalu dikeringkan. Jadilah tanaman kolodewo kering yang siap diminta siapapun yang membutuhkan, tentunya selama saya mempunya stok. Yah, itung-itung bisa ikut ngasih bekal uang sekolah ke anak-anak SD dan SMP di desa. Sekarang ini ada sekitar 15-20 anak yang biasa mencari tanaman tersebut sesuai pesanan saya. Bagi siapapun para pembaca yang budiman bila ada yang membutuhkan tanaman KOLODEWO tersebut, bisa juga mencari sendiri di lingkungan anda. Kolodewo selama ini terbukti cocok untuk diabetes dan penyakit liver juga. Namun, hasil akhir, seberapa kadar kesembuhan, dan seberapa cocok obat tersebut, bagi saya pribadi semua itu berhubungan erat dengan “lakune urip” si penderita. Bagi saya pribadi, melakukan kebaikan sebanyak-banyaknya, kepada seluruh makhluk, tulus, tidak pilih kasih, tetap memainkan peran utama, apakah penyakit mudah sembuh atau tidak. Karena, setiap kebaikan yang kita lakukan pada seluruh makhluk, akan menjadi “pagar gaib” buat diri kita sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

My Blog List